jtemplate.ru - free extensions for joomla

Sang Yoga

Pengalaman tak terlupakan beryoga di Little Tibet atau dikenal juga dengan nama Shangrila, tempat yang tingginya 3.500 meter di atas permukaan laut. Pengetahuan yoga bertambah, badan pun semakin sehat.


Berbicara mengenai yoga sungguh sangat membingungkan, belakangan, nama yang satu ini marak dibicarakan oleh khalayak ramai. Berbagai aliran yoga bermunculan dengan paket menu yang beraneka ragam dan rasa yang berbeda pula. Untuk kaum awam hal ini sangatlah membingungkan. Guru-guru yoga instant pun bermunculan. Benar-benar bingung untuk memilih jenis yoga mana yang akan dicoba. PUSING...

Saya pribadi sudah pernah berkenalan dengan yoga pada tahun 1992, tetapi hanya untuk hitungan bulan. Saya bingung melihat peserta yoga yang dapat begitu menikmati kelas sedangkan saya tidak tahu harus berbuat apa. Beberapa tahun setelah itu saya mengalami susah tidur dan esilgan (obat tidur) menjadi sahabat setia selama bertahun-tahun. Memang betul kata orang, jodoh tidak akan lari kemana-mana. Tahun 2003 saya dipertemukan lagi dengan yoga melalui ibu Indrayanti. Saya mengikuti kelasnya selama tiga bulan dan walhasil sampai sekarang setiap malam dapat tidur pulas.

Mei 2005, saya mendengar dari seorang teman mengenai acara yoga yang namanya asing ditelinga "Iyengar Yoga". Namanya cukup mengesankan dan saya ingin tahu jenis yoga apa lagi yang ditawarkan oleh penyelenggara kali ini. Dengan modal nekad saya daftarkan diri dan ternyata jatuh cinta dengan yoga yang satu ini. Sampai saya menulis artikel ini makin banyak kegiatan yoga yang saya ikuti baik di dalam maupun di luar negri bersama para guru dari manca negara seperti Ming Lee, Ann Baros, Ramanand Patel & Mukesh Desai, Chandru Melwani, Olop Arpipi dan Rodney Yee. Mereka semua tampil dengan kelebihannya dan mengesankan, yang paling utama mereka sangat 'low profile'.

Perjalanan yang amat mengesankan adalah saat saya ber-yogaria di Little Tibet (The Shangrila). Tempat yang sudah lama saya mimpikan untuk dikunjungi dan baru kali ini ada kesempatan untuk dapat menikmati pemandangan yang menakjubkan sambil berlatih yoga di ketinggian 3500 meter dari permukaan laut. Saya berangkat seorang diri dari Jakarta dan bertemu dengan Ming Lee serta rombongan lainnya di Hong Kong.

18 Maret, kami berangkat menuju Kunming dan dari sini dimulailah perjalanan yang menakjubkan sepanjang hidup saya. Keesokan harinya kami menuju Zhongdian yang lebih terkenal dengan nama "Little Tibet / Shangrila". Perasaan berkecamuk tak karuan saat pesawat mendekati Shangrila, dari atas kami dapat melihat pegunungan yang diselimuti salju, padang rumput yang luas dan juga binatang khas Tibet "yak" yang berkeliaran disekitarnya. Kami semua sangat terpesona hingga tak dapat berkata-kata, hanya decakan kagum yang keluar dari mulut sambil menikmati pemandangan yang luar biasa menuju penginapan. Udara sangat dingin dan terasa sekali energi yang sangat kuat di sekitar kami.

Tempat pertama yang dikunjungi adalah danau Bita Hai yang cukup terkenal. Di sana kami melakukan pemujaan di biara Songzangling dan juga bermeditasi dipimpin oleh 20 orang lama dan seorang 'living budha'. Tentu saja kami juga beryoga di tengah udara yang dingin dalam ruangan berpemanas (hawa dingin masuk dari celah-celah jendela dan pintu) dan bertahan dalam setiap asana (gerakan) untuk waktu yang lama. Setelah lelah dengan yoga pada pagi dan sore hari, kami melahap makanan yang wah... yang disediakan pihak penginapan. Beraneka ragam hot pot dengan beragam daging dan jamur dihidangkan.

Tak terasa perjalanan selama satu minggu berakhir. Walaupun belum mahir tapi saya merasakan pegetahuan yoga saya bertambah. Manfaat yoga pada tubuh saya pun semakin terasa dari tahun ke tahun. Saya dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih tenang, tidur pulas dan problem punggung saya sedikit demi sedikit teratasi.

Saya begitu terkesan dengan setiap retreat yang saya ikuti, para peserta memiliki latar belakang budaya yang beragam tapi memiliki satu tujuan untuk melakukan yoga. Tidak ada rasa bersaing atau menonjolkan diri dan merasa hebat. Semua saling membantu seperti keluarga besar yang sedang berkumpul bersama. Itulah inti yoga yang sebenarnya. Terimakasih untuk semua guru yoga yang tidak bosannya membimbing saya, selamat berkarya dan semoga selalu diberkati Tuhan. Terimakasih kepada JakartaDoYoga dan Yusni yang mempertemukan saya kembali dengan Sang Yoga.

 

Keywords: Jakartadoyoga, Yoga Studio, Yoga, Iyengar, Jakarta, Indonesia, Health